Senin, 19 September 2011

Menabur itu menuai

Menabur
Galatia 6:1-10  1 Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan.
2  Bertolong-tolonganlah menanggung beban
mu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.
3  Sebab kalau seorang menyangka, bahwa ia berarti, padahal ia sama sekali tidak berarti, ia menipu dirinya sendiri.
4  Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain.
5  Sebab tiap-tiap orang akan memikul tanggungannya sendiri.
6  Dan baiklah dia, yang menerima pengajaran dalam Firman, membagi segala sesuatu yang ada padanya dengan orang yang memberikan pengajaran itu.
7  Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.
8  Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.
9  Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.
10  Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.

Dalam pengertian saya menabur berbeda dengan memberi. Seorang petani yang telah mengolah tanah, akan masuk pada giliran untuk menyebarkan benih. Menabur adalah bagian yang tidak terpisahkan dari 4 pekerjaan pokok petani. Pertama menyiapkan tanah, menaburkan benih, merawat dan menyiangi, masa panen.
Menabur adalah bagian penting dari urutan kegiatan petani. sampai bagian yang paling menyenangkan tiba, yaitu masa panen. Memang petani tidak bisa memberikan pertumbuhan pada benih dan memastikan panen yang melimpah. Tetapi dia bisa berupaya maksimal untuk mengerjakan dan mengolah tanah dengan baik. Menabur benih dengan sungguh-sungguh, menjaga, merawat dan akhirnya menuai hasil.
Pasti menabur mempunyai tujuan, yaitu untuk menuai hasil.
Pasti agak aneh jika mengharapkan hasil tuaian tapi tidak pernah menabur.

Tetapi bukankah menabur itu tindakan menyebarkan banyak benih. Dari kantong benih kita sebarkan ke tanah. Jika orang tidak paham bercocok tanam, kelihatannya sedang membuang sesuatu. Tetapi dari membuang benih itulah akan dihasilkan puluhan kali benih lagi. Jadi sederhana, menabur bukan satu kata atau tindakan sia-sia.
Tetapi bukankah menabur itu intinya ‘memberi?’
Jika ‘ya’ bukankah  dalam memberi Tuhan Yesus mengajar harus dengan ‘tulus hati’, ‘tidak mengharapkan imbalan’ dan ‘melakukannya demi kemuliaan Allah’?
Benar! tetapi mari bedakan kata ‘imbalan’ atau ‘balasan’ dengan kata ‘hasil’
Memberi jangan harapkan ‘balasan’ atau ‘imbalan’
Menabur itu akan memberikan ‘hasil’.
Anda menanam pohon mangga, merawatnya dengan baik. Anda mengharapkan pohon itu akan memberikan buah, tempat teduh, udara yang segar. Tetapi diharapkan atau tidak diharapkan, pohon itu akan memberikan hasil. Bahkan lebih dari yang diharapkan.
Jadi apa yang kita tabur, akan memberikan hasil. Dan siapa yang menuai? Tentunya yang menabur akan menuai hasilnya lebih dahulu.

Kita belajar menabur dari Galatia, dengan beberapa nasihat dan syarat-syarat penting,
1. Menabur pertolongan untuk saudara seiman
kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran,…
Kalaupun…, artinya ada kemungkinan dan potensi seseorang percaya akan melakukan kesalahan. Kesalahan yang dimaksud adalah bukan dengan sadar dan sengaja melawan kasih karunia Allah. Tetapi telah dibawa dengan tidak disadari atau ditipu oleh pencobaan atau semacam jebakan. Jadi akan ada beberapa orang percaya yang menjadi korban penipuan. Setidaknya ada tiga hal dalam jaman itu yang membuat orang percaya dalam pelanggaran,
pertama oleh karena di bawah pengajaran guru yang salah. Jadi ada orang-orang percaya yang tergoda dan akhirnya mengalah pada pengertian bahwa untuk mendapat kebenaran dan pengudusan dengan melakukan, bukan menerima. Misalnya pada waktu itu dengan mentaati hukum-hukum Musa, dengan sungguh-sungguh mentaati Taurat akan membawa kepada kebenaran. Mereka tahu bahwa ada sesuatu yang tidak benar dengan dasar ini, tetapi mereka tidak tahu bagaimana dan harus bertindak seperti apa. Karena pengajaran yang kurang atau tidak diajarkan. Sehingga yang berkembang adalah hal yang tidak sepenuhnya berdasarkan firman Allah.
Contoh: orang percaya ingin lebih diberkati, tapi tidak tahu persis bahwa salah satu kunci utama adalah memberi. Mereka harus diajarkan tentang memberi.

Anak-anak Tuhan tidak asing dengan berdoa. Tahu berdoa, tetapi bagaimana supaya berhasil dalam doa? Bagaimana menyatakan doa yang berkuasa? Mereka harus ditolong bertumbuh dalam doa.

Beberapa orang gagal dengan hati nurani yang bersih dari tuduhan dosa. Mereka percaya pengampunan Allah, tetapi tidah tahu bagaimana pengampunan itu bekerja dalam dirinya. Perlu ditaburkan pengetahuan dan dasar firman agar kebenaran membasuh hati nurani.

Hal kedua yang terjadi adanya kencenderungan yang merusak dalam jemaat di Galatia pada waktu itu. Jika pada jaman sekarang kondisi yang tidak terlalu berbeda, kita akan menemui kecenderungan ini.

Contoh: Kuasa.
Beberapa orang sudah terlibat dalam berbagai bentuk untuk motif kuasa dalam gereja. Memimpin adalah melayani tetapi punya bentuk lain yang otomatis muncul bersamaan: kuasa, pengaruh, mengatur. Beberapa konflik terjadi, karena seorang yang merasa pemimpin wewenangnya tidak dihargai. Otoritasnya tidak dihormati. Dan kadang mengatas namakan posisi gembala atau pemimpin, meminta hak dan kehormatan yang bukan pada waktunya. Beberapa orang kecewa karena pemimpin yang dihormati karena tulus dan murni mulia bicara uang dan uang. Beberapa pemimpin membuat hati hambar karena mengklaim keberhasilan-keberhasilan sebagai upayanya, doanya, dan urapan Tuhan yang bekerja atas dirinya. Hal dmeikian yang terjadi terus menerus adalah ambang perpecahan dan kehancuran. Orang tidak perlu lagi merasa terlibat Karena tidak ada andilnya.  
Contoh yang lain lagi isa soal uang, kekudusan hidup, dosa pergaulan, dan banyak lagi yang perlu sekali pertolongan pengajaran yang benar. Yang punya hendaknya menabur.  

ketiga adalah berhubungan dengan pengaruh penyembahan berhala yang berlebihan pada jaman itu. Pada jalan sekarang iblis masih bekerja dengan cara yang sama tetapi dengan media berbeda. Dukun berganti paranormal yang mengikuti jaman. Pengalihan dari bergantung kepada Allah dengan digantikan yang lain, tetap gaya lama yang diperbaharui. Acara televisi, teknologi, dan pekerjaan menjadi alat yang paling umum untuk mengurangi keintiman bersama Allah.
Di sinilah perlu petunjuk dari orang-orang percaya yang menolong saudara seiman yang jatuh untuk bersekutu kembali.

Maka kamu yang rohani harus memimpin orang itu ke jalan yang benar
Artinya kamu yang lebih rohani, atau kamu yang sudah menerima Roh, tetapi bukan kamu yang tidak berdosa!
Dewasa Rohani maksudnya adalah…
þmemiliki pikiran Kristus,
þ   Hidup dalam buah Roh, seorang yang mengampuni bukan menghakimi.
þ   Memiliki hati hamba dan pelayan untuk saudara seiman.
 Maka orang-orang inilah yang harus memperbaiki ‘jaring yang rusak atau tulang yang patah’.
Ini adalah penting sekali bagi orang yang sudah dewasa untuk menolong yang lain sampai mencapai pengertian di atas rata-rata orang Kristen. Inilah yang tanpa henti diperintahkan dan dilakukan sendiri oleh rasul Paulus.

Sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan..
maksudnya adalah pencobaan bukan untuk kedewasaan tapi untuk merusak.  
Orang percaya memiliki beban, yaitu untuk menolong orang percaya yang lain. Yang sudah dewasa rohani membantu membawa kelemahan-kelemahan yang kurang dewasa.
orang percaya harus menilai diri sendiri sehingga mereka dengan sewajarnya berhubungan satu dengan yang lain sehingga menghindari menilai diri terlalu tinggi. Sehingga dia tidak menipu dirinya sendiri dan membawanya dalam kesalahan. Bukan berarti orang percaya tidak punya dosa, tetapi dosa tidak mendominasi hidup mereka. Itulah sebabnya mereka ini dapat menolong dan mendoakan untuk mereka yang didominasi oleh dosa.

menguji pekerjaannya sendiri
orang percaya harus menguji pekerjaannya sendiri dan tidak membandingkan dirinya dengan orang lain terutama yang sedang tergelincir dalam dosa. Sangat mudah menjadi baik dan tenang bila duduk diantara orang yang berdosa atau baru bertumbuh. Saya bersyukur Roh Kudus mau tinggal dan mengajar dalam diri orang percaya. Roh mengajar untuk mengukur diri dengan firman Allah, membandingkan diri dengan Yesus. Menilai dengan karakter Kristus.
Sangat menyenangkan bila sudah melakukan hal-hal besar menurut Alkitab, kemudian melihat sekeliling dan tidak seorangpun yang menyamai. Tetapi uji lagi apakah motifnya, apakah tujuannya, apakah prosesnya memuliakan Allah?

tiap orang akan memikul tanggungannya sendiri.
Karena setiap orang akan menghadap tahta pengadilan Kristus. Dan Kristus menilai setiap apapun dalam diri kita dan yang kita lakukan berdasarkan diri-Nya, penilaiannya. Bukan ranking kita dengan orang lain. Bukan lagi siapa juara di dunia pelayanan, tidak lagi siapa besar dalam gereja Tuhan, tapi siapa dia dihadapan Kristus. Dalam standar kebenaran-Nya. Pengadilan yang belum pernah ada dan satu-satunya.

2. Menabur untuk utusan Tuhan
Mereka yang diajar ada dalam tanggung jawab rohani untuk berbagi di dalam pelayanan dengan mereka yang mengajar mereka. Ini adlah prinsiop umum, yang walaupun Paulus tidak mengambil pemberian atau keuntungan dari jemaat atas pelayanannya tetapi dia menekankan prinsip ini. Berbagi dalam hal kebutuhan rohani dan jasmani. Mereka yang diajar harus berterimakasih dan mau merespon. Tentu ini tidak dimaksudkan untuk guru-guru palsu.

Jangan sesat! Artinya jangan memperdaya atau menipu. Dengan bagaimana, yaitu dengan seolah –olah itu sedang diproses atau sudah dilakukan. Kalau bertindak demikian ini sama dengan sudah menipu.
Itu sama dengan mengejek Allah di depan mata. Karena siapa yang dipanggil melayani Allah dia adalah mewakili Allah. Mengejek utusan Allah, dalam konteks ini, sama dengan mengejek Allah.
Tetapi sebaliknya, …barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya."Matius 10:42
40      Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. Matius 25:40,
Orang percaya atau tidak, semua kena hukum umum ini, tidak terkecuali. Ini juga prinsip rohani bagi orang percaya. Apa saja yang ditabur, akan dituai, meskipun tidak mempengaruhi keselamatan.
Karena ada dua dasar untuk dibenarkan oleh Allah, yaitu usaha manusia atau anugerah yang benar-benar cuma-cuma.

3. Jangan lelah menunggu masa menuai 
Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik
Artinya jangan jemu-jemu adalah …
þ    jangan kehilangan semangat.
þ    Jangan putus asa,
þ    jangan patah hati,
þ    jangan hilang harapan.

karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai,
Diperlukan iman yang terus menerus merespon dengan percaya. Dasarnya adalah ada waktu Allah yang Maha Kuasa itu bekerja dalam hidup kita.
Kita tidak banyak tahu bagaimana sesuatu itu terjadi, tetapi karena kita percaya bahwa Allah itu Maha Kuasa dan ini tuntutan Alkitab bahwa kita harus menabur kebaikan. Maka kita memberikan hidup kita untuk melayani dan melakukan kebaikan.

berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman
Bagaimana perbuatan baik yang mendatangkan tuaian kekal?
Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah. 1Kor 10:31 
Siapa orangnya?
þ   Orang percaya lebih dahulu,
þ   Semua orang,

by yefta heppy Inspired by Dr.Bob Utley 

Jumat, 09 September 2011

Tuhan adalah Gembalaku

Tuhan Adalah Gembalaku

Mazmur 23:4 Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.


Yohanes 15:16 Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.15:17 Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain."

Siapa tidak tahu kalimat ”Tuhan adalah Gembalaku”. Mazmur 23 mengatakan tentang tema terkenal sepanjang masa: Tuhan adalah gembalaku. Daud sendiri seorang raja yang punya pengalaman sebagai gembala domba, yang ketika menuliskan Mazmur ’Allah adalah gembala, dia sedang dalam pelarian yang menakutkan. Pelarian yang membuat jiwanya tertekan. Dan dalam pelariannya dia ditolong dan ditampung oleh Barzilai, yang juga seorang gembala.  

Daud adalah pahlawan yang gagah perkasa, namun dalam keadaan sangat tidak berdaya. Dia tidak mampu melawan pengejarnya, karena yang sedang memberontak dan mengejar dia adalah Absalom, anaknya sendiri. Para ahli menyimpulkan dari Alkitab, pemberontakan Absalom terjadi akibat dari kesalahan Daud sebagai bapak, juga karena dampak dosa di masa lalu.

Nah, dari latar belakang pengalaman Daud, saya berkata ini bisa terjadi kepada semua orang. Orang yang perkasa, orang yang kuat, orang yang biasa-biasa, orang yang lemah. Tuhan bisa ijinkan siapapun anak Tuhan, untuk mengalami didikan dengan berjalan dalam lembah kekelaman, berjalan dalam ’lembah bayangan maut’. Mengalami perkara yang berbahaya baik dalam skala kecil maupun sampai benar-benar tidak ada jalan keluar dan pertolongan...oleh karena kesalahan sendiri.

Selain itu Tuhan juga ijinkan didikan-Nya dan rancangan-Nya hanya bisa bekerja dengan cara terbaik bila diijinkan dalam tantangan dan lembah kekelaman,

Gadamu dan tongkatmu, itulah yang menghibur aku,

Gada dan tongkat adalah perlengkapan gembala untuk menggembalakan kawanan domba, untuk membela dan melindungi dari kawanan srigala, binatang buas yang menyerang, bahkan juga untuk mendisiplin kawanan domba sendiri.

Sebuah pukulan kepada anak domba yang cenderung keluar dari kawanan dan mencari jalannya sendiri jauh lebih bermanfaat dari pada dibiarkan. Jika anak domba keluar dari kawanan, itu berarti keluar dari perlindungan masuk dalam kehidupan liar. Di luar sana  kelompok  srigala, kawanan singa yang mengaum, dan pencuri. Keluar juga artinya juga keluar dari kepastian dan jaminan. Kepastian mendapat rumput yang hijau, disediakan air yang segar, dan jaminan perlindungan yang aman.

Alkitab juga memberi contoh yang populer untuk anak domba yang keluar dari kawanan, yaitu kisah anak yang hilang.

Diceritakan dalam Lukas 15 adalah seorang anak yang tidak berpengalaman yang merasa tahu kehidupan. Menantang dengan mencoba menuruti keinginan hatinya, melakukan yang baik menurut pikirannya.

Ketika anak itu keluar maka kekuatannya utamanya adalah harta warisan dari bapanya. Ketika dunia sudah menghisap dan memanfaatkannya, habis hartanya, tidak ada sumbernya lagi, habis.  Maka tidak ada satupun kemampuannya dapat menolong dirinya, juga tidak ada kekuatannya yang bisa melindunginya dari hal paling mendasar, yaitu rasa lapar. Jangankan soal kehormatan, pemulihan atau sekedar hidup normal, serangan rasa lapar saja, dia tidak sanggup menolong dirinya. Sampai keputusan terbaik muncul, yaitu menyadari kesalahan, hanya dalam rumah, dalam keluarga, dalam pemeliharaan bapanya ia aman, terhormat.  berniat minta ampun, dan berjalan kembali pulang ke rumah bapanya. Dan pemulihan terjadi, kisah ini ditutup dengan bukti: Tidak ada tempat terbaik selain dalam lingkungan keluarga bapanya.

 

Demikian juga di padang belantara, singa punya cakar dan taring yang kuat, srigala punya gigi runcing yang tajam dan licik, pencuri punya tipu muslihat, tetapi domba punya apa? Apa senjatanya?

Tidak ada selain ’gada dan tongkat gembalanya’. Itu senjata yang melindungi dan menaklukkan penyerang yang ganas, tapi itu tidak didapati diluar sana, hanya dalam kawanan gembalaan. Hanya di bawah perlindungan gembala terletak kekuatannya.    


Yohanes 10:27 Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku,
domba yang mendengar gembalanya, mengenal gembalanya akan mengikutinya. Karena disanalah dia mendapatkan apa yang dibutuhkan, yang diperlukan, bukan apa yang diinginkan.

Daud memiliki ketenangan dengan hidup bersandar bergantung kepada Gembala hidupnya. Dan Mazmur dikenal hampir semua orang percaya dibanding Mazmur yang lain, karena memberi pertolongan, pemulihan dan digembalakan. Tuhan adalah gembalaku itu berarti
*      Dia membawa kemanapun dengan peduli,
*      Dia itu perlindungan,
*      Dia itu selalu menyediakan,

Segala rupa orang memerlukan dipimpin dan dipedulikan, dilindungi, disediakan segala keperluannya. Keinginan inilah yang mendorong orang bangun pagi dan bermimpi menjadi kaya, menjadi pemimpin, menjadi yang pertama. Inilah yang membuat orang mau dan mampu berbuat apa saja demi mendapatkannya. Karena pada kenyataannya, dunia peduli kepada orang kaya.
kaya/bos = rasa aman, perlindungan dan berkecukupan,
’Domba-domba’ pun bisa keluar dari kawanan dan mendengarkan bisikan dan seruan dunia, tetapi domba yang sudah belajar akan mendengarkan gembala-Nya saja. Karena gada dan tongkat sudah cukup mendisplinkan dalam kawanan.
Gada dan tongkat itu sekarang menyenangkan bagi domba, karena bukan lagi hukuman, tapi alarm mendeteksi penyimpangan. Alat untuk mengarahkan ke jalan yang benar. Mengarahkan kepada apa yang terbaik ke depan dimana mata kita sendiri tidak mampu melihatnya. Karena keinginan kita memimpin kepada maut, tapi rancangan gembala adalah kehidupan dan damai sejahtera. Itulah yang diberikan Tuhan Yesus, Gembala yang baik.

Perhatikan pernyataan ini:
’Aku sendiri. ’
”Aku ’Seekor domba’ merasa tidak digembalakan.”
”Dimana perlindungan dan pemeliharaan itu karena aku merasa tidak disentuh, tidak mendengar, ”
”Aku diperlakukan berbeda dari ’domba lain’, karena tidak mengalami apa yang dimiliki domba pada umumnya.”
Dan bisa banyak lagi keluhan domba-domba.
Perhatikan sekelompok anak sekolah TK. Mereka berada di lingkungan halaman sekolah dan bermain bebas. Dua tiga guru mengawasi. Ada anak yang lincah, ada yang tertawa, ada yang asik sendiri, ada yang murung, ada yang menangis. Masing-masing mereka dengan dunia dan pikiran mereka masing-masing. Pasti ada yang merasa bosan, lelah, mau pulang, kurang diperhatikan dll. Tetapi kenyataannya mereka diawasi dengan baik. Guru dengan waspada akan segera menolong bila diperlukan. Bukan berdasarkan perasaan anak-anak tapi penilain guru.
Memang benar perasaan kita bisa kacau, tertuduh, merasa sendiri, tertekan, tetapi percalah Yesus gembala yang baik.

Iblis tidak mampu mencuri domba-domba yang sudah digembalakan Tuhan Yesus, tetapi iblis bisa bebisik menulari penyakit perasaan, sehingga muncul gejala-gejalanya demikian:

*     ’Saya tidak bisa merasakan hadirat-Nya lagi,’
*     ’Saya tidak mendengar-Nya kembali’,
Tetapi belajarlah, percayalah dari firman Tuhan melalui pengalaman percaya Daud, ”Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman”
Di dalam lembah kekelaman tentu tidak bisa dilihat apa-apa lagi, selain kegelapan dan bayang-bayang maut. tampaknya juga tidak ada suara lagi selain jeritan ketakutan kita. Tidak ada cahaya harapan lagi. Yang ada hanya ancaman maut, kegagalan berdiri, kehancuran siap menyambut, sendiri, gelap, air mata tidak berguna lagi, nampaknya tidak ada yang berdiri disana, apalagi menemani, selain maut itu sendiri, tetapi itu semua salah!. Daud telah membuktikannya. bahwa Dia, Sang Gembala, ada disana! Gada dan tongkatnya menjaga. Memang Dia tidak segera memberikan terang benderang, tetapi penyertaan. Sampai kita melalui lembah maut. Melewatinya!. Daud percaya dan membuktikan. Kata Yesus kepadanya: "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya." Yoh 20:29 

 

Dan Dia adalah gembala yang baik, yang mengenal ’domba-domba-Nya’. Perasaannya, emosi, keraguan dan kebimbangan, iman, hatinya, dan keinginan-keinginannya. Dan penghiburan yang luar biasa adalah:Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu...”


 Dia yang telah bersusah payah mencari Anda yang tersesat, dia yang sudah menebus dengan membayar mahal dari srigala dan singa yang sudah menawan dan mau membinasakan Anda. Dia sekarang mengumpulkan Anda dalam kelompok yang Dia gembalakan sendiri. dialah yang memimpin, memberi tempat yang penuh dengan perlindungan, rumput yang bertunas hijau, dan air yang tenang, apakah ini bukan berkat yang luar biasa?!  

 

Tidak hanya itu, Dia berkata :”Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap,..”

Jadi Dia sudah merancang Anda tidak biasa-biasa, tapi mampu berkembang dan berbuah, dan itu permanen, terus-menerus. Artinya Anda ditetapkan menjadi pohon yang baik, bertumbuh, kuat, sehingga buahnya muncul terus-menerus dan itu baik. Anda menyenangkan tuan Anda dan Anda puas dengan kehidupan Anda.

 

Dan perhatikan berkat berikutnya: ”... supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.”

Yesus memberkati dan bersama dalam doa permohonan untuk keinginan-keinginan yang kita minta, membuatnya mungkin untuk dijawab. Betapa luar biasanya, doa yang dijawab. Betapa seringnya kita dengar ini, dan ingin menjadi mengalaminya, ’doa yang dijawab’. 

”Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka” betapa berkuasa dan indahnya bila Tuhan Yesus mengenal kita, dalam hubungan yang khusus, istimewa. Tentu saja Tuhan berkuasa atas semua makhluk. Tapi Anda dikenalnya pribadi, karena domba-Nya!
Mari bersukacitalah sebab Tuhan Yesus gembala Anda!

Added and rewritten by yefta heppy

Rabu, 07 September 2011

Ganjaran dan Teguran itu Juga Didikan Bapa


Didikan Bapa  

Ibrani 12:5 Sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: "Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya;
6 karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak."
7 Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?
8 Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang.
9 Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup?
10 Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya.
11 Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.
12 Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah;

Inilah pertanyaan yang muncul dalam sebuah artikel:
Untuk apa kita hidup kalau hanya untuk menderita?

Pernah Anda berpikir dan merenung, apa kira-kira penderitaan itu pernah berhenti dan tidak datang lagi? Atau memikirkan satu hari dimana diikuti hari-hari berikutnya dengan tanpa masalah.
Pernahkah muncul ide, apa enaknya hidup, kalau isinya adalah menyelesaikan persoalan dan masalah. Contohnya, ada orang bekerja keras, hasilnya untuk membeli makanan karena akan ada persoalan lapar di keluarganya. Ada lagi yang harus mengumpulkan hanya untuk membayar sewa, tagihan, cicilan bahkan mengganti barang orang yang dirusakkan. Lebih sedih lagi sudah bekerja tetapi untuk menanggung orang lain yang perlu bantuan, sakit, atau menganggur. Ada kesan pikiran sempit, kalau hidup hanya untuk menyelesaikan satu masalah ke masalah yang lain dan seterusnya, lalu orang menjadi tua dan tidak bisa lagi mengatasi masalah terakhir yaitu kematian.
Apa enaknya hidup kalau demikian?
Kalau di gereja atau kumpulan orang percaya pertanyaannya lebih khusus lagi;
Mengapa anak-anak Tuhan menderita?
Mengapa hamba Tuhan menderita ?
mengapa orang percaya kepada Tuhan Yesus menderita?

Saya sekarang mendapat jawaban untuk pertanyaan ini:
Pertama, Mengapa anak-anak Tuhan menderita?
Justru karena saya anak Tuhan, maka penderitaan itu ada. Tuhan adalah Bapa saya. Umumnya para bapak di dunia ini membuat disiplin [yang oleh para anak disebut penderitaan karena disiplin itu tidak enak]. Disiplin ada agar anak-anak menjadi yang baik. Setiap bapak ingin melakukan yang terbaik, dan kalau dia membuat satu bentuk disiplin, pasti menurutnya itu pilihan terbaik saat itu. Tentu saja satu orang tua berbeda dan bisa saja bertentangan dengan orang tua lain dalam metode disiplin yang diterapkan. Tetapi semua orang tua baik yang ingin anaknya baik.

Apalagi Bapa di sorga. Dia menjadikan kita baik menurut ukuran-Nya. Dia melakukan apa yang baik untuk kita.

Kedua, Mengapa hamba Tuhan menderita? Bukankah mereka melayani Allah yang menyelesaian penderitaan?
justru karena kita hamba-Nya, maka dia membuat kita itu benar-benar menjadi hamba-Nya. Apakah jika Anda seorang tuan, lalu seorang hamba anda yang baru berkata demikian: “Saya hambamu Tuan, inilah yang akan saya lakukan, inilah yang tidak akan saya lakukan,. Inilah kesukaan saya dan ini daftar yang tidak saya sukai.”
Pasti Anda akan gusar atau tertawa, lucu kalau punya hamba seperti itu. Karena Tuanlah yang akan menentukan apa boleh dan tidak boleh, bagaimama bertindak, bersikap dan mengambil keputusan. Jadi bukan hamba menurut ukuran siapapun, tetapi ukuran tuannya.
Demikian juga Tuhan, Tuan kita. Dialah yang akan membentuk, mengatur, mendidik tentang arti hamba menurut-Nya. Proses Tuhan untuk menjadikan saya hamba ini tidak enak. Kadang tidak dimengerti. Dan kita mengenalinya sebagai penderitaan.

Ketiga, mengapa orang percaya kepada Tuhan Yesus menderita?
justru karena kita percaya kepada Tuhan Yesus, maka Dia mengajari bagaimana percaya yang benar. cara kita percaya, dasar kita percaya dibentuk-Nya.
Dan tindakan kita sebagai orang percaya juga dilatih oleh Dia, yang kita percayai.
Dua orang teman kemudian berkomitmen untuk menjadi pasangan kekasih dalam hubungan mereka. Tidak lama kemudian pertengkaran besar terjadi karena sang pria menolak menceritakan beberapa kejadian yang dialaminya. Sang gadis menuntut tahu sebagai tanda saling percaya, tidak ada rahasia lagi katanya. Tetapi sang pria menetapkan peraturan hubungan, katanya: Jikalau engkau  percaya saya, begini aturannya. Tidak semua hal harus kamu tahu karena itu tidak penting dan bukan urusanmu. Kalau engkau menuntut tahu semua itu bukan percaya lagi!”. Hubungan yang harusnya manis penuh cinta jadi penderitaan.  … nah, Anda yang meneruskan cerita akhirnya.

Tetapi kalau kita percaya Tuhan Yesus, maka Tuhan mengatur, mendidik dan menetapkan cara kita percaya kepada-Nya. Dan itu sama sekali berbeda dengan yang kita mau,
Contoh: Saya percaya doa yang sungguh-sungguh dengan penuh percaya itu dijawab Tuhan. Tetapi dalam keadaan genting dan perlu, saya berdoa, malah tidak terjadi, yang lain yang terjadi.
Saya maunya dalam kesulitan dan masalah yang muncul, Tuhan segera menampakkan diri, menghibur, dan menolong, tetapi yang terjadi sama sekali tidak seperti itu. Dan ini juga penderitaan. Tapi Tuhan sedang mengatur kita percaya seperti cara Dia. Proses yang kadang butuh waktu ini kita sebut penderitaan.  

Ada banyak alasan kita menderita.
Pertama, karena kebutuhan kita tidak tercukupi. Lalu Karena keinginan kita terpenuhi juga Karena diri kita tidak dihargai seperti yang kita inginkan, dan bermacam lagi.  
Perhatikan anak-anak yang sekolah. Belajarlah kepada mereka. Benar, anak-anak berangkat dan tidak boleh terlambat, memakai seragam yang ditentukan, artinya belajar disiplin. Mereka harus mengikuti semua peraturan, mentaatinya. Karena ada resiko bagi pelanggaran. Bisa saja dikeluarkan. Semua pelajaran dari guru-gurunya harus didengar diikuti dan tugas-tugas harus dikerjakan. Seringkali mereka mengeluh sikap gurunya yang keras, seenaknya. Atau kadang karena PR terlalu banyak dan pelajaran tidak disukai.
Tetapi rata-rata murid harus mengikutinya, melewatinya. Mereka harus sopan kepada teman dan para guru. Semua ini sangat mempengaruhi penilaian kepada setiap siswa. Tetapi yang paling menentukkan adalah moment ujian. Semua ditest dengan bahan yang sama untuk evaluasi dari semua pelajaran selama setahun. Nilai hasil ini sangat menentukkan apakah dia nanti naik kelas atau tidak. Sebaik apapun seorang murid kalau nilai ujiannya jatuh, maka sang penguji akan mempertimbangkan untuk tinggal kelas guna mempelajari lagi dan di test lagi. Karena babak berikutnya hanya bisa dilalui bila bagian pertama lulus. Tentu saja seorang murid tidak bisa mengerjakan ujian mengarang sampai 5 halaman, kalau menulis saja dia belum rapi dan jelas. Bagaimana bisa dikerjakannya pembagian 5 bilangan kalau penjumlahan saja belum mengerti?
Ada kesamaan dengan yang kita alami sebagai orang percaya dengan murid yang sedang belajar ini. Entah kita menyebut diri kita orang percaya, anak Tuhan, hamba Tuhan, jemaat Tuhan, … tetapi ada proses pendidikan yang panjang, dan kadang berulang-ulang.
Meskipun juga saya lihat ada sedikit perbedaan. Seorang murid harus ujian dan lulus, baru kemudian diberi ijazah atau gelar.
Tetapi saya punya gelar dulu, baru saya dididik bertumbuh didalamnya. Gelar saya adalah anak Allah, imamat yang rajani, pewaris kerajaan sorga, hamba Allah….. Semua ini sah! Bagaimana bisa? Karena orang lain sudah ujian untuk saya dan sangat lulus. Terbaik! Tuhan Yesus sudah melakukan dan sekarang memberikan untuk saya. Inilah anugerah, pemberiaan-Nya semata, hanya berdasarkan percaya dan menerima Dia.
Tetapi selama kita hidup ini, Bapa mendidik kita untuk memperolah hak-hak dari gelar atau posisi sebagai Anak Allah. Bagaimana caranya menerima dan menggunakan warisan itu?
Hal-hal apa saja yang menghambat dan perlu diubah agar layak dan sesuai untuk menerima kekayaan Bapa?
Contoh: Saya berhak untuk mendapat dengan cara memintanya kepada Bapa, kapan saja, apa saja karena Dia bapa saya. Tetapi cara meminta yang bagaimana yang bisa dipakai untuk mendapat jawaban?

Saya bisa gunakan buku atau atm BCA hanya untuk di counter BCA. Tetapi sangat tidak berhasil kalau saya gunakan di Bank Mandiri. Akan terkesan bodoh dan konyol.
Seorang anak umur satu atau 2 tahun sangat berhasil menggunakan rengekan atau tangisan menjerit-jerit untuk mendapatkan sesuatu dari ibunya. Tetapi di tahun ketiga atau keempat dia akan mendapat teguran kalau masih menggunakan cara yang sama untuk meminta. Ketika tumbuh besar, dia akan mendapat pukulan kalau masih merengek dan menangis untuk minta minum saja.
Orang tua akan mendidik bagaimana bersikap yang lebih baik sesuai usianya. Tetapi sang anak akan sangat sedih dan merasakan tidak enak karena perubahan-perubahan ini, karena kebiasaan-kebiasaan baru ini. Dan ketika anak mulai tumbuh maka orang tua akan memberikan tanggung jawab. Ada istilah baru muncul dalam dunia anak: hak dan kewajiban. Tindakan dan konsekwensi. Sebab dan akibat. Dalam pertumbuhan rohani kita kenal dengan:  tabur dan tuai.
Anehnya orang percaya maunya satu atm untuk semua penarikan dan transaksi uang. Satu kali doa saja untuk meminta kepada Bapa lalu semua tersedia. Makan, pakaian, rumah, pekerjaan, gaji, sahabat, kebahagiaan, kesehatan, dst.,.
Mau saya doa dua tiga menit meminta, maka segala sesuatu beres!
Seperti seorang anak, untuk rengekan atau tangisan yang sama untuk meminta banyak hal. ini tidak berlaku lagi dalam dunia pertumbuhan anak-anak Tuhan.

Jadi mengapa ini terjadi?

1. Karena Engkau disertai
Sebab Tuhan menghajar setiap orang yang dikasihi-Nya, dan Ia mencambuk setiap orang yang diakui-Nya sebagai anak-Nya."
Pikiran dan perasaan yang muncul ketika masa penderitaan adalah kita dihukum karena salah dan dibenci. Dijauhi dan ditinggalkan itu kata yang tepat bagi pikiran perasaan kita di kala itu. Tetap apa kata firman Tuhan  itulah yang penting. Dia mengasihimu dan mengakuimu sebagai anak, maka Dia ada didekatmu untuk menghajar. Itu artinya dekat, tidak ditinggalkan.

2. Karena engkau anak yang sah
Dunialah yang mengajarkan kalau anak tiri itu lebih dihajar dan menderita, dan anak kandung itu bahagia. Kisah anak tiri dan film Cinderella mempengaruhi pikiran saya anak kandung itu tidak menderita, tetapi di manja. Anak tiri itu disia-siakan dan tidak ada maksud baik untuk masa depannya. Tetapi, sekali lagi dengarkan kata Alkitab.

Kalau kalian tidak turut dihukum seperti semua anaknya yang lain ini berarti kalian bukan anak sah, melainkan anak yang tidak sah.

Justru Alkitab mengatakan anak sah yang harus mengalami banyak didikan Bapanya. Kesimpulan sederhananya, didikan Bapa menunjukkan status sekaligus menegaskannya.

3. Dia sedang bekerja di dalammu
Orang tua kita yang di dunia mengajar kita hanya dalam waktu yang terbatas, menurut apa yang mereka merasa baik. Tetapi Allah mengajar kita untuk kebaikan kita sendiri, supaya kita dapat menjadi suci bersama-sama dengan Dia.
Masalah dan kesulitan itu menegaskan bahwa Allah sedang bekerja di dalam dirimu. Setiap didikan bapak kepada anaknya pasti mempunyai tujuan, entah itu sangat sederhana atau sangat tinggi. Sangat sederhana misalnya anak bertindak nakal, maka orang tua menegur dan mendisiplin agar tidak nakal seperti pada umumnya. Tapi ada yang punya tujuan lebih tinggi, agar anak sejak kecil memiliki mental seorang pemimpin, seorang penemu, atau seorang ilmuwan, semua menurut yang baik dari orang tua masing-masing. Apa yang mereka anggap baik, dan apa yang mereka inginkan untuk anaknya nanti.
Tetapi Bapa mengajar kita untuk kebaikan kita sendiri. Apa yang sangat terbaik untuk kita ini, itulah yang dilakukan Bapa.

4. Dia menempatkan kita di tempat yang benar
Memang pada waktu kita diajar, hukuman itu tidak menyenangkan hati kita, melainkan hanya menyedihkan saja. Tetapi kemudian dari itu, bagi kita yang sudah diajar, hukuman itu menyebabkan kita hidup menurut kemauan Allah, dan menghasilkan perasaan sejahtera pada kita.
Menurut kita kemauan terlaksana, itulah tanda disertai Tuhan, keinginan kita tergenapi, itulah tanda diberkati Tuhan. Menurut firman Allah hidup menurut kemauan Allah itu berjalan bersama Tuhan. Maka selalu berada di tempat yang Tuhan inginkan itulah maksud didikan dan ajaran Tuhan. Dalam kisah Injil, Tuhan Yesus selalu menunjukkan contoh bahwa Dia berada dalam kehendak Allah. Kadang di tempat sunyi berdoa, kadang di tempat pesta, kadang bersama orang tertindas, diantara orang tertolak dan berdosa, dan kadang di Bait Allah. Semuanya tepat seperti kehendak Bapa.

5.Taat dan kuatlah
Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah;
Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup?  

By yefta heppy

Senin, 05 September 2011

Bergembiralah dalam Pencobaan


Bergembiralah
1Petrus 1:6 Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan.
7 Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu--yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api--sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.
8 Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan,
9 karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu.

Ada banyak ungkapan bersukacita dalam Alkitab, sekilas ada beberapa hal saya simpulkan berhubungan dengan bersukacita ini yaitu,
umat Tuhan menyatakan bersukacita karena pertolongan Tuhan, 
hamba Tuhan bersuka cita karena penghiburan dan firman ketetapan Tuhan,
umat Tuhan dan nabi Tuhan berdoa mohon sukacita, 
dan beberapa berdoa supaya orang fasik tidak bersukacita atas orang benar,
 bersukacita karena upah besar di sorga, bersukacita karena roh-roh tunduk,
bersukacita karena melihat perkara mulia dan ajaib,
bersukacita karena anak yang hilang kembali,
bersukacita domba yang hilang kembali,
bersukacita dirham yang hilang kembali,
bersukacita bersukacita karena melihat Yesus,
bersukacita karena jemaat yang bertumbuh,
bersukacita karena Injil diberitakan,
bersukacita karena penderitaan dalam pelayanan kepada Kristus,

Karena itu hendaklah kalian bersuka hati, meskipun sekarang untuk sementara waktu kalian harus menjadi sedih karena kalian mengalami bermacam-macam cobaan. Maksudnya bergembiralah kalau hari ini kamu harus menjadi sedih oleh karena kamu harus mengalami berbagai pencobaan.
Nampaknya jalan keluar terbaik yang harus dilakukan dalam kesedihan adalah bergembira. Karena bergembira yang paling aman untuk tubuh, jiwa, dan roh.
Perhatikan peringatan Tuhan yang dikatakan kepada Kain yang marah dan panas hati: Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik?
Bergembira atas yang terjadi adalah pilihan manusia. Tuhan sendiri menyuruh Kain untuk bergembira meskipun situasinya tampak tidak tepat. Tetapi akibat jika tidak bergembira jauh lebih merusak.

Untuk apa kita harus bergembira?
Karena adanya pencobaan-pencobaan yang harus kita alami.
Untuk apa pencobaan-pencobaan harus ada?

Pertama, untuk satu tujuan, yaitu membuktikan apakah kalian sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan atau tidak?
Memang ada banyak hal dalam hidup ini tidak perlu dibuktikan. Tetapi untuk perkara dan hal yang kita anggap penting kita perlu bukti.
Tujuan-tujuan pencobaan ini kamu percaya kepada Tuhan atau tidak?. Untuk menunjukkan imanmu, apakah engkau percaya kepada Tuhan atau tidak.
Jadi maksud pencobaan diijinkan untuk membuat kamu teguh, semakin kuat, dan ini memurnikan imanmu.  

Alasan kedua mengapa pencobaan-pencobaan harus kita alami  adalah untuk menunjukkan bahwa iman yang sedang kamu pegang itu berharga.
 Bahkan sangat berharga!
Apakah ada iman yang tidak berharga? Banyak sekali!
Coba uji dan hitung dalam hidupmu, apa saja yang engkau dan percayai. Misalnya: kepada seseorang engkau percaya dan berharap, tetapi dia ingkar dan mengecewakanmu. Engkau percaya pada keberuntungan, percaya pada tradisi, percaya kepada roh-roh, percaya kepada pengajaran luhur, percaya kepada pekerjaan, percaya kepada usaha, ramalan, prediksi pengetahuan, pada kemampuan, dan entah percaya pada apa lagi.
Tetapi sekarang bandingkan dengan iman kepada Allah, firman-Nya, mana lebih menjamin, mana lebih berharga?.

Kalau orang menjual besi, tidak perlu surat bukit pembelian bahwa itu besi. Tidak perlu keahlian untuk mengujinya lebih dahulu, apakah sungguh-sungguh besi, berapa kadarnya, dan sebagainya. Hanya langsung ditimbang dan dibayar.
Tetapi apabila ada orang menjual emas, sang pembeli emas akan menguji lebih dahulu, mengetes keaslian dan perlu suratnya. Mengapa, karena sangat berharga.

Dalam pemurnian emas, api akan menunjukkan apakah satu bongkahan itu emas murni atau didalamnya ada benda lain dan kotoran. Waktu bongkahan emas mencair, maka kotoran dan kandungan lain akan tersingkir atau terbakar. Tentu saja tujuan utama pembakaran ini bukan untuk merusak, atau meghancurkan, tetapi menguji keasliannya sekaligus memurnikannya. Api adalah salah satu yang terbaik untuk memurnikan sebongkah emas, sebelum ditemukan bahan-bahan kimia.
Demikianlah iman, pencobaanlah alat dan cara terbaik untuk menguji iman dan memurnikan. Apakah iman ini sudah berkwalitas baik atau masih harus terus dimurnikan…

Iman yang mana yang perlu diuji?
1Petrus 1: 8..Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia,..

Sekalipun engkau belum pernah melihat Bapa di sorga, engkau percaya bahwa Dia ada dan berkuasa. Dan engkau menghormati, menyembahnya. Percaya semua diciptakan-Nya, percaya bahwa Dia sumbernya sehingga segala sesuatu ada, engkau ada. Dan kepada Dialah kita bertanggung jawab pada akhirnya. Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia , tentu saja ini perlu diuji.

Engkau percaya Yesus, bahwa Dialah Tuanmu, Rajamu, Juruselamat, Gembala dan Sahabatmu. Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia… Engkau mendengarkan-Nya, percaya firmanNya. Engkau percaya bahwa Dia mengasihimu dengan menunjukkannya dalam berbagai cara.
Sampai Dia datang ke dunia, dalam segala penderitaan ditanggung-Nya  sampai mati.
Sekarang engkau berkemenangan setelah kebangkitan-Nya. Oleh penyelamatan-Nya, Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia .
Dan semua ini perlu dimurnikan.
Apakah pengharapanmu memang hanya kepada Dia?
Apakah keselamatanmu hanya bertumpu kepada Dia?
Perlu dimurnikan dari segala yang tidak murni.
Apakah kamu percaya kuasa Roh Allah?
Roh penghibur dan penolong, hikmat dan pengertian?
Sumber kuasa dan pemimpin?
Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia
Perlu diuji dengan latihan dan pencobaan, perlu dimurnikan dengan bara api. Sampai benar-benar teruji dan murni.


Tindakan yang mana yang perlu diuji?
1Petrus 1: 8...kamu mengasihi-Nya,…
kamu menyatakan mengasihi Tuhan, menyembah-Nya, memuji Dia, meninggikan nama-Nya, memberikan jiwamu dan hatimu, tubuhmu untuk melayani-Nya.
Tetapi darimana Tuhan tahu batas komitmenmu itu?
Maka  perlu dicoba, ada test yang perlu dilakukan, dan Dia pihak yang berkuasa yang berhak membuat tesnya. Dia yang berkepentingan, yang menentukan, bukan dengan cara yang kita mau. Sehingga semua yang terjadi kemudian memang akan mendatangkan kesedihan. Tetapi firman Tuhan katakan bergembiralah!

Bergembiralah!
1Petrus 1: 8…sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya,…
Bergembiralah! …sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya,…
sekarang kamu tidak melihat janji Tuhan, tetapi engkau berdiam di dalamnya.
Engkau percaya kepada-Nya bahwa engkau berkelimpahan meskipun belum berkelimpahan.
Engkau menjadi kepala bukan ekor, meskipun keadaanmu kini biasa-biasa.
Engkau percaya bahwa keselamatanmu dijamin dengan hidup kekal, tempatmu kelak disorga, meskipun engkau belum pernah mengunjunginya, mengalaminya. Engkau percaya.
Dan apakah engkau menolak untuk diuji dengan pencobaan atas semua yang engkau percayai ini?
Raja Daud berkata: Ujilah aku, ya TUHAN, dan cobalah aku; selidikilah batinku dan hatiku.
Jadi mengapa saya harus mencontoh raja Daud, yang dengan lapang dada membuka hati kepada ujian dan penyelidikan diri oleh Tuhan? Bukankah itu seperti menantang dan cari masalah? Bukankah terkesan sok hidup benar sehingga tidak khawatir bila diuji Tuhan…
Tentu sekilas saya pun setuju pendapat ini. Tetapi sekarang kita melihat kerendahan hati yang luar biasa sebenarnya. Karena kesadaran Daud dan pengalaman hidupnya, mengajarkan, jauh lebih baik sesering mungkin hidupnya dibawa ke dokter rohani, yaitu Allah sendiri. Seperti check up kesehatan rohani setiap jam. Mengapa? Jangan-jangan tumbuh jamur iman, tumbuh virus kesombongan, atau ada bakteri ketidakpercayaan. Jauh lebih baik dikoreksi tiap hari, ada salah diluruskan lagi, dari pada ternyata dikemudian hari sudah kronis menyimpang dari Tuhan dan mendatangkan hukuman!

Ya, diperiksa, dikoreksi, diuji, itu penting, tetapi untuk apa sih?
1Petrus 1:9 karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu.
Itu penting karena iman itu punya tujuan, punya sasaran. Dan apa sasarannya? Tujuannya adalah  keselamatan jiwamu.
Supaya engkau selamat, bukan binasa. Supaya engkau memperoleh hidup kekal, bukan hukuman kekal.
Kalau tidak terus diuji, tidak dikoreksi, tidak ditest imannya tidak sampai pada tujuan.
Bisa saja imannya memimpin kepada berkat, hidup kelimpahan, kesembuhan, mujizat dan diberkati sampai anak cucu tetapi tidak sampai pada tujuan utamanya.
Bayangkan jika Anda mendapat bonus tour dari Surabaya ke Jakarta. Anda singgah di kota-kota besar, menikmati belanja gratis, rekreasi, fasilitas hotel mewah. Baik di Jogjakarta, Semarang, Bandung, dan semua kota dan tempat-tempat wisata. Tetapi Anda belum mencapai tujuan bila berhenti di Bogor, meskipun semua hal yang luar biasa sudah dinikmati. Harus ada guide yang terus menerus mengingatkan tujuan utama Anda Jakarta.

Jadi Anda sudah menangkap alasan mengapa disuruh bergembira  
…sekalipun sekarang ini kamu harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan?   
karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan,
karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu
 
Oleh heppy

Setiap menggunakan renungan ini untuk dicetak selalu sertakan:
setiap  donasi mendukung pelayanan ini ke
rek. mandiri 109-00-1083021-4 a.n. heppy widjayanto
rek. BCA 3264101633 a.n. Ernawati


Minggu, 04 September 2011

Bapaku itu Baik!

Bapaku Itu Baik

Ibrani 12: 6 karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak."

12:7 Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?
12:8 Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang.
12:9 Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup?
12:10 Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya.
12:11 Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.
12:12 Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah;
Bapaku itu baik. Apakah yang terpikir dalam diri Anda jika Anda mendengar kata ini lalu Anda menyaksikan televisi, dalam beberapa berita yang menyatakan kekejaman seorang bapak kepada anaknya. Baik itu anak kandung atau anak tirinya. Ada yang dilempar ke rel kereta api, ada yang dibanting gara-gara mengganggu tidurnya. Tampak negatif dan tragis perilaku seorang bapak kepada anaknya. Tetapi harus kita ingat bahwa iblis bekerja dalam segala sesuatu untuk merusak dan menghancurkan pekerjaan Bapa. Dan setiap kali iblis bertindak, dia ingin hal itu popular, untuk menipu semua orang tentunya. Untuk merusak gambaran sempurna atau ’image’ seorang bapak.
Coba bayangkan, satu bapak yang buruk di dunia ini jika disebarkan melalui televisi akan sangat manjur untuk mengintimidasi sekian juta penonton televisi. Lalu banyak orang akan ragu apa benar masih benar-benar ada bapak yang baik? kejahatan iblis dipakai untuk menakuti banyak orang, membuat orang ragu, kurang percaya akan nilai seorang bapak dalam mempengaruhi perkembangan anaknya. Iblis akan bekerja untuk merusak keluarga, apalagi keluarga Kristen yang sungguh takut akan Tuhan.
Mengapa? Karena salah penghasil sumberdaya manusia terbaik adalah keluarga. Pendidikan takut akan Tuhan dalam Alkitab, dalam sejarah umat Israel, dimulai dari keluarga. Seringkali tokoh utama dalam Alkitab yang punya masalah dengan anaknya adalah karena kesalahan dalam pendidikan keluarga, terutama peran seorang bapak. Contoh: imam Eli membiarkan anak-anaknya Hofni dan Pinehas, untuk berbuat jahat di dalam pelayanan keimaman di rumah Tuhan.

Ibrani 12:10 Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, .....
tentu saja iman Eli begitu sayang sehingga tidak tega untuk menegur anak-anaknya dengan keras. Sehingga ketika mereka dewasa, mereka melayani Tuhan dengan tabiat-tabiat jahatnya. Pada akhirnya itu membinasakan anak dan bapak.
Dalam kitab Josua pasal 7 juga ada kesalahan bapak Akhan bin Karmi bin Zabdi bin Zerah, dari suku Yehuda, yang tidak hanya membinasakan seluruh keluarga, tapi juga menyebabkan kekalahan dan kematian bagi umat Israel. Oleh karena seorang bapak yang ingin hidupnya makmur, dia telah menyembunyikan jarahan yang seharusnya menurut perintah Tuhan tidak boleh disentuh untuk dimiliki.
Ada beberapa kasus lain yang bisa menjadi contoh, tapi perhatikan, itu hanya sebagian kecil. Ada berjuta-juta bapak yang sangat baik, bertanggung jawab, teladan dan takut akan Tuhan. Abraham, Yusuf, Ayub adalah contohnya.
Topik menariknya adalah mereka ingin melakukan yang terbaik. Kesalahan terjadi bukan karena mereka ingin mencelakakan anak dan keluarga. Tetapi karena mereka manusia yang memang tidak tahu yang baik dan benar dengan sempurna. Upaya-upaya dan cara mereka mendidik, mungkin tidak populer jaman sekarang ini, bisa jadi mengandung banyak kesalahan dalam metode, tetapi mereka berusaha melakukan yang terbaik selama masa anak-anak dalam tanggung jawabnya.
Berapa banyak orang luar biasa dan sukses pada jaman ini, baik dalam perkara dunia atau rohani, tidak lepas dari peran keluarga. Peran dari didikan seorang bapak.

12:10 ..., tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya.
Bapa di Sorga juga senang mengambil peran Bapa di bumi untuk membuat kita mengerti, betapa Dia megasihi kita. Dalam firman Tuhan, Tuhan tidak segan memakai kata menghajar untuk menunjukkan betapa Dia ingin kita mendapat bagian dalam kekudusanNya. Tidak mungkin ada persekutuan lebih erat dengan Bapa di sorga kalau kita tidak sesuai dengan suasana keluarga Sorga yang Kudus. Seorang bapak saja tidak akan mengijinkan anaknya semeja makan dengan dia sebelum tangannya yang kotor dibersihkan. Dan sedihnya seorang anak belum tahu pengetahuan kebersihan ini. Anak-anak menganggap tangan untuk memegang makanan boleh kapan saja digunakan untuk memegang lumpur atau kotoran. Kondisi ini yang sang Bapak ingin rubah. Tentu ada didikan dan teguran dalam hal ini, dan kadang sang anak tidak suka.

Tidak mungkin seorang bapak mengijinkan anaknya ikut jalan-jalan atau naik ke tempat tidur kalau dia masih memakai baju yang basah karena main air, atau baju yang kotor karena noda-noda kotoran. Sayangnya anak tidak tahu bedanya mana baju bersih dan pantas, yang sehat untuk tubuh, dan mana baju yang kotor penuh kuman.

Ibrani 12:7 Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?
Dimanakah anak yang sudah tahu segala sesuatu yang harus dilakukan?
Dimanakah ada anak yang sudah dengan sendirinya memahami tugas dan kewajibannya dengan baik?
Kalau ada pasti ajaib. Masa kanak-kanak Tuhan Yesus pun bersama didikan Ayah dan ibunya. Sehingga Dia dikenal punya profesi tukang kayu, belajar dari bapaknya. Lalu dimanakah ada anak-anak yang tidak rewel dan menangis kalau kesenangannya dilarang? Atau ada anak begitu senang, tidak kecewa bila mendapat disiplin dilarang keluar rumah? Mana yang disukai anak, hadiah atau  mendapat ganjaran? Pasti seorang anak tidak menyadari betapa ganjaran ayahnya itu istimewa, bahkan lebih dari hadiah. Sangat bermanfaat untuk hidupnya. 
Jadi kalau ada seorang anak Tuhan yang sering kecewa dengan apa yang dibuat Bapa disorga, merasa sedih, maka dia harus berubah cara berpikirnya, menyadari bahwa Bapa di sorga baik. Bukan Bapa yang harus berubah tetapi dia yang harus bertumbuh dewasa.

Ibrani 12: 6 karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak."
Jadi firman di atas ini meneguhkan, bahwa tidak ada anak Tuhan yang istimewa dalam hal didikan dari Tuhan. Semua akan mengalami yang disebut hajaran dan ganjaran. Kalau tidak mengalami hal ini jangan-jangan Tuhan tidak mengasihinya...jangan-jangan dia sebenarnya bukan anak Tuhan
Kasih itu murah hati, kasih itu panjang sabar, kasih lemah lembut... tetapi sekarang tambahkan, kasih Bapa itu juga mengandung hajaran. Kalau Bapa mengakui kita anak-Nya pasti ada saat kata ’menyesah’ atau mencambuk itu ada bagi kita anak-anak-Nya.

Maka dua respon terbaik adalah dengar-dengaran dengan Tuhan. Buka hati, apa yang Tuhan mau kita perbaiki dan pikirkan hasilnya, mengucap syukur kalau sekarang belum mengerti, tapi waktu rancanga Tuhan digenapkan kita sangat bergembira karena didikan Tuhan.
Ada orang tua yang sampai keras bahkan mendisiplin anaknya agar belajar matematika. Lebih banyak kesalahan, malas, menangis, menghindar dibuat oleh sang anak dari pada belajar sungguh-sungguh. Ia lebih suka membaca cerita, atau mewarnai. Tetapi orang tua terus dengan berbagai cara agar hari demi hari sang anak belajar. Memang, sekian banyak anak di dunia ini belum mengerti, ’untuk apa belajar matematika yang melelahkan!’ Tetapi suatu saat, kehidupan dan pekerjaan mereka ke depan banyak dipengaruhi oleh ilmu ini.  

Ibrani 12:12 Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah
Anggap Anda seorang anak yang sedang bertumbuh. Jika kaki Anda belum terlalu kuat untuk membuat Anda berjalan jauh, apa yang harus Anda lakukan? Tidak memakai untuk berjalan berlebihan.
Jika kaki anda sering luka karena terantuk batu, lecet karena kerikil, apa yang harus anda lakukan? Membungkusnya dan menjaganya baik-baik dari batu dan kerikil.
Tentu saja tidak demikian!
Anda harus melatihnya untuk berjalan lagi dan lagi. Untuk berlari, untuk memanjat, untuk menendang bola, untuk mengayuh sepeda, untuk berjalan di rumput, di kerikil, di tanah, di batu, di pantai... itu membuatnya bertumbuh kuat.
Kuatkanlah dengan makin percaya firman Allah, berharaplah dari kuasa Roh Kudus. Makin berdoalah, karena itu tangan rohanimu. Bukan jadi lembek, tapi harus makin berotot. Latih lagi. Doa belum dijawab, doa serasa tidak didengar, teruskan lagi, berdoa lagi.
Kalau jatuh bangkit lagi. Hati kecewa, merasa disakiti, merasa dilukai, dikhianati, bangkit lagi. Ampuni, rendah hati, cari wajah Tuhan.
Barangkali memang kita sombong, kita ceroboh dan tajam dalam kata-kata sehingga ditegur Tuhan melalui orang lain, maka koreksi kesombongan, minta ampun dan tinggalkan.
Awasi lidah kita, belajar menjaga rahasia yang dipercayakan, latih pikiran untuk memikir kearah positif, yang manis dan sedap didengar. Itu bisa dilatih. Cara paling gampang adalah dengan memikirkan reaksi dan jawaban kita lalu latihkan, ucapkan, perkatakan.
Ada banyak lagi kalau kita bicara kekudusan dalam berpacaran, kekudusan dalam menggunakan internet, kekudusan rumah tangga,
Dalam menggunakan uang, dalam mengelola berkat Tuhan,
Juga bagaimana kita merenungkan firman Tuhan setiap hari,
Dan masing-masing dalam diri Anda Roh Kudus pasti mengingatkan!

Ibrani 12:11 Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.
Kalau hari ini merasa berduka karena didikan, terkekang kebebasan karena harus berperilaku kudus, tidak gaul atau populer, itu memang tidak enak.
Orang lain menonton, kita berdoa dan membaca firman Tuhan,
Orang lain jalan-jalan kita bersekutu,
Orang lain bisa ganti-ganti pasangan, kita harus hidup kudus,
Orang lain belanja kita bayarkan uang persepuluhan dan persembahan,
dan banyak hal lagi yang saat ini terasa sebagai dukacita!

Kalau sekarang banyak orang menawarkan cara mudah untuk sukses, berhasil dengan cara mudah! Orang Kristen agaknya bisa tertular cara berpikir: Diberkati luar biasa, dengan cara hidup biasa-biasa.
Bahkan ada yang maunya hidup duniawi berkatnya sorgawi,
Sayangnya saya belum tahu rumus dari sorga atau alkitab yang demikian. Kecuali cara tipuan dari iblis.

Tetapi ingat, pohon yang dirawat dengan baik pasti datang juga masa berbuah! Andalah yang menikmati buah-buah hidup benar itu. Ketika orang lain jatuh, hidupnya rusak, tidak berpengharapan, jauh dari keselamatan, Anda menikmati buah dan berkat dari didikan kebenaran Tuhan. Bukan hanya berkat sekarang yang melimpah, tetapi yang paling dicari orang: Hidup kekal di Sorga, itu menjadi bagian kita!
Nah, Kuatkanlah lutut dan tangan rohanimu, karena Bapamu baik, sedang melatihmu untuk berkat besar-Nya!