Tampilkan postingan dengan label Makna dibalik penderitaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makna dibalik penderitaan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 September 2011

Tuhan adalah Gembalaku

Tuhan Adalah Gembalaku

Mazmur 23:4 Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.


Yohanes 15:16 Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.15:17 Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain."

Siapa tidak tahu kalimat ”Tuhan adalah Gembalaku”. Mazmur 23 mengatakan tentang tema terkenal sepanjang masa: Tuhan adalah gembalaku. Daud sendiri seorang raja yang punya pengalaman sebagai gembala domba, yang ketika menuliskan Mazmur ’Allah adalah gembala, dia sedang dalam pelarian yang menakutkan. Pelarian yang membuat jiwanya tertekan. Dan dalam pelariannya dia ditolong dan ditampung oleh Barzilai, yang juga seorang gembala.  

Daud adalah pahlawan yang gagah perkasa, namun dalam keadaan sangat tidak berdaya. Dia tidak mampu melawan pengejarnya, karena yang sedang memberontak dan mengejar dia adalah Absalom, anaknya sendiri. Para ahli menyimpulkan dari Alkitab, pemberontakan Absalom terjadi akibat dari kesalahan Daud sebagai bapak, juga karena dampak dosa di masa lalu.

Nah, dari latar belakang pengalaman Daud, saya berkata ini bisa terjadi kepada semua orang. Orang yang perkasa, orang yang kuat, orang yang biasa-biasa, orang yang lemah. Tuhan bisa ijinkan siapapun anak Tuhan, untuk mengalami didikan dengan berjalan dalam lembah kekelaman, berjalan dalam ’lembah bayangan maut’. Mengalami perkara yang berbahaya baik dalam skala kecil maupun sampai benar-benar tidak ada jalan keluar dan pertolongan...oleh karena kesalahan sendiri.

Selain itu Tuhan juga ijinkan didikan-Nya dan rancangan-Nya hanya bisa bekerja dengan cara terbaik bila diijinkan dalam tantangan dan lembah kekelaman,

Gadamu dan tongkatmu, itulah yang menghibur aku,

Gada dan tongkat adalah perlengkapan gembala untuk menggembalakan kawanan domba, untuk membela dan melindungi dari kawanan srigala, binatang buas yang menyerang, bahkan juga untuk mendisiplin kawanan domba sendiri.

Sebuah pukulan kepada anak domba yang cenderung keluar dari kawanan dan mencari jalannya sendiri jauh lebih bermanfaat dari pada dibiarkan. Jika anak domba keluar dari kawanan, itu berarti keluar dari perlindungan masuk dalam kehidupan liar. Di luar sana  kelompok  srigala, kawanan singa yang mengaum, dan pencuri. Keluar juga artinya juga keluar dari kepastian dan jaminan. Kepastian mendapat rumput yang hijau, disediakan air yang segar, dan jaminan perlindungan yang aman.

Alkitab juga memberi contoh yang populer untuk anak domba yang keluar dari kawanan, yaitu kisah anak yang hilang.

Diceritakan dalam Lukas 15 adalah seorang anak yang tidak berpengalaman yang merasa tahu kehidupan. Menantang dengan mencoba menuruti keinginan hatinya, melakukan yang baik menurut pikirannya.

Ketika anak itu keluar maka kekuatannya utamanya adalah harta warisan dari bapanya. Ketika dunia sudah menghisap dan memanfaatkannya, habis hartanya, tidak ada sumbernya lagi, habis.  Maka tidak ada satupun kemampuannya dapat menolong dirinya, juga tidak ada kekuatannya yang bisa melindunginya dari hal paling mendasar, yaitu rasa lapar. Jangankan soal kehormatan, pemulihan atau sekedar hidup normal, serangan rasa lapar saja, dia tidak sanggup menolong dirinya. Sampai keputusan terbaik muncul, yaitu menyadari kesalahan, hanya dalam rumah, dalam keluarga, dalam pemeliharaan bapanya ia aman, terhormat.  berniat minta ampun, dan berjalan kembali pulang ke rumah bapanya. Dan pemulihan terjadi, kisah ini ditutup dengan bukti: Tidak ada tempat terbaik selain dalam lingkungan keluarga bapanya.

 

Demikian juga di padang belantara, singa punya cakar dan taring yang kuat, srigala punya gigi runcing yang tajam dan licik, pencuri punya tipu muslihat, tetapi domba punya apa? Apa senjatanya?

Tidak ada selain ’gada dan tongkat gembalanya’. Itu senjata yang melindungi dan menaklukkan penyerang yang ganas, tapi itu tidak didapati diluar sana, hanya dalam kawanan gembalaan. Hanya di bawah perlindungan gembala terletak kekuatannya.    


Yohanes 10:27 Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku,
domba yang mendengar gembalanya, mengenal gembalanya akan mengikutinya. Karena disanalah dia mendapatkan apa yang dibutuhkan, yang diperlukan, bukan apa yang diinginkan.

Daud memiliki ketenangan dengan hidup bersandar bergantung kepada Gembala hidupnya. Dan Mazmur dikenal hampir semua orang percaya dibanding Mazmur yang lain, karena memberi pertolongan, pemulihan dan digembalakan. Tuhan adalah gembalaku itu berarti
*      Dia membawa kemanapun dengan peduli,
*      Dia itu perlindungan,
*      Dia itu selalu menyediakan,

Segala rupa orang memerlukan dipimpin dan dipedulikan, dilindungi, disediakan segala keperluannya. Keinginan inilah yang mendorong orang bangun pagi dan bermimpi menjadi kaya, menjadi pemimpin, menjadi yang pertama. Inilah yang membuat orang mau dan mampu berbuat apa saja demi mendapatkannya. Karena pada kenyataannya, dunia peduli kepada orang kaya.
kaya/bos = rasa aman, perlindungan dan berkecukupan,
’Domba-domba’ pun bisa keluar dari kawanan dan mendengarkan bisikan dan seruan dunia, tetapi domba yang sudah belajar akan mendengarkan gembala-Nya saja. Karena gada dan tongkat sudah cukup mendisplinkan dalam kawanan.
Gada dan tongkat itu sekarang menyenangkan bagi domba, karena bukan lagi hukuman, tapi alarm mendeteksi penyimpangan. Alat untuk mengarahkan ke jalan yang benar. Mengarahkan kepada apa yang terbaik ke depan dimana mata kita sendiri tidak mampu melihatnya. Karena keinginan kita memimpin kepada maut, tapi rancangan gembala adalah kehidupan dan damai sejahtera. Itulah yang diberikan Tuhan Yesus, Gembala yang baik.

Perhatikan pernyataan ini:
’Aku sendiri. ’
”Aku ’Seekor domba’ merasa tidak digembalakan.”
”Dimana perlindungan dan pemeliharaan itu karena aku merasa tidak disentuh, tidak mendengar, ”
”Aku diperlakukan berbeda dari ’domba lain’, karena tidak mengalami apa yang dimiliki domba pada umumnya.”
Dan bisa banyak lagi keluhan domba-domba.
Perhatikan sekelompok anak sekolah TK. Mereka berada di lingkungan halaman sekolah dan bermain bebas. Dua tiga guru mengawasi. Ada anak yang lincah, ada yang tertawa, ada yang asik sendiri, ada yang murung, ada yang menangis. Masing-masing mereka dengan dunia dan pikiran mereka masing-masing. Pasti ada yang merasa bosan, lelah, mau pulang, kurang diperhatikan dll. Tetapi kenyataannya mereka diawasi dengan baik. Guru dengan waspada akan segera menolong bila diperlukan. Bukan berdasarkan perasaan anak-anak tapi penilain guru.
Memang benar perasaan kita bisa kacau, tertuduh, merasa sendiri, tertekan, tetapi percalah Yesus gembala yang baik.

Iblis tidak mampu mencuri domba-domba yang sudah digembalakan Tuhan Yesus, tetapi iblis bisa bebisik menulari penyakit perasaan, sehingga muncul gejala-gejalanya demikian:

*     ’Saya tidak bisa merasakan hadirat-Nya lagi,’
*     ’Saya tidak mendengar-Nya kembali’,
Tetapi belajarlah, percayalah dari firman Tuhan melalui pengalaman percaya Daud, ”Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman”
Di dalam lembah kekelaman tentu tidak bisa dilihat apa-apa lagi, selain kegelapan dan bayang-bayang maut. tampaknya juga tidak ada suara lagi selain jeritan ketakutan kita. Tidak ada cahaya harapan lagi. Yang ada hanya ancaman maut, kegagalan berdiri, kehancuran siap menyambut, sendiri, gelap, air mata tidak berguna lagi, nampaknya tidak ada yang berdiri disana, apalagi menemani, selain maut itu sendiri, tetapi itu semua salah!. Daud telah membuktikannya. bahwa Dia, Sang Gembala, ada disana! Gada dan tongkatnya menjaga. Memang Dia tidak segera memberikan terang benderang, tetapi penyertaan. Sampai kita melalui lembah maut. Melewatinya!. Daud percaya dan membuktikan. Kata Yesus kepadanya: "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya." Yoh 20:29 

 

Dan Dia adalah gembala yang baik, yang mengenal ’domba-domba-Nya’. Perasaannya, emosi, keraguan dan kebimbangan, iman, hatinya, dan keinginan-keinginannya. Dan penghiburan yang luar biasa adalah:Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu...”


 Dia yang telah bersusah payah mencari Anda yang tersesat, dia yang sudah menebus dengan membayar mahal dari srigala dan singa yang sudah menawan dan mau membinasakan Anda. Dia sekarang mengumpulkan Anda dalam kelompok yang Dia gembalakan sendiri. dialah yang memimpin, memberi tempat yang penuh dengan perlindungan, rumput yang bertunas hijau, dan air yang tenang, apakah ini bukan berkat yang luar biasa?!  

 

Tidak hanya itu, Dia berkata :”Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap,..”

Jadi Dia sudah merancang Anda tidak biasa-biasa, tapi mampu berkembang dan berbuah, dan itu permanen, terus-menerus. Artinya Anda ditetapkan menjadi pohon yang baik, bertumbuh, kuat, sehingga buahnya muncul terus-menerus dan itu baik. Anda menyenangkan tuan Anda dan Anda puas dengan kehidupan Anda.

 

Dan perhatikan berkat berikutnya: ”... supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.”

Yesus memberkati dan bersama dalam doa permohonan untuk keinginan-keinginan yang kita minta, membuatnya mungkin untuk dijawab. Betapa luar biasanya, doa yang dijawab. Betapa seringnya kita dengar ini, dan ingin menjadi mengalaminya, ’doa yang dijawab’. 

”Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka” betapa berkuasa dan indahnya bila Tuhan Yesus mengenal kita, dalam hubungan yang khusus, istimewa. Tentu saja Tuhan berkuasa atas semua makhluk. Tapi Anda dikenalnya pribadi, karena domba-Nya!
Mari bersukacitalah sebab Tuhan Yesus gembala Anda!

Added and rewritten by yefta heppy

Minggu, 04 September 2011

Bapaku itu Baik!

Bapaku Itu Baik

Ibrani 12: 6 karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak."

12:7 Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?
12:8 Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang.
12:9 Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup?
12:10 Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya.
12:11 Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.
12:12 Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah;
Bapaku itu baik. Apakah yang terpikir dalam diri Anda jika Anda mendengar kata ini lalu Anda menyaksikan televisi, dalam beberapa berita yang menyatakan kekejaman seorang bapak kepada anaknya. Baik itu anak kandung atau anak tirinya. Ada yang dilempar ke rel kereta api, ada yang dibanting gara-gara mengganggu tidurnya. Tampak negatif dan tragis perilaku seorang bapak kepada anaknya. Tetapi harus kita ingat bahwa iblis bekerja dalam segala sesuatu untuk merusak dan menghancurkan pekerjaan Bapa. Dan setiap kali iblis bertindak, dia ingin hal itu popular, untuk menipu semua orang tentunya. Untuk merusak gambaran sempurna atau ’image’ seorang bapak.
Coba bayangkan, satu bapak yang buruk di dunia ini jika disebarkan melalui televisi akan sangat manjur untuk mengintimidasi sekian juta penonton televisi. Lalu banyak orang akan ragu apa benar masih benar-benar ada bapak yang baik? kejahatan iblis dipakai untuk menakuti banyak orang, membuat orang ragu, kurang percaya akan nilai seorang bapak dalam mempengaruhi perkembangan anaknya. Iblis akan bekerja untuk merusak keluarga, apalagi keluarga Kristen yang sungguh takut akan Tuhan.
Mengapa? Karena salah penghasil sumberdaya manusia terbaik adalah keluarga. Pendidikan takut akan Tuhan dalam Alkitab, dalam sejarah umat Israel, dimulai dari keluarga. Seringkali tokoh utama dalam Alkitab yang punya masalah dengan anaknya adalah karena kesalahan dalam pendidikan keluarga, terutama peran seorang bapak. Contoh: imam Eli membiarkan anak-anaknya Hofni dan Pinehas, untuk berbuat jahat di dalam pelayanan keimaman di rumah Tuhan.

Ibrani 12:10 Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, .....
tentu saja iman Eli begitu sayang sehingga tidak tega untuk menegur anak-anaknya dengan keras. Sehingga ketika mereka dewasa, mereka melayani Tuhan dengan tabiat-tabiat jahatnya. Pada akhirnya itu membinasakan anak dan bapak.
Dalam kitab Josua pasal 7 juga ada kesalahan bapak Akhan bin Karmi bin Zabdi bin Zerah, dari suku Yehuda, yang tidak hanya membinasakan seluruh keluarga, tapi juga menyebabkan kekalahan dan kematian bagi umat Israel. Oleh karena seorang bapak yang ingin hidupnya makmur, dia telah menyembunyikan jarahan yang seharusnya menurut perintah Tuhan tidak boleh disentuh untuk dimiliki.
Ada beberapa kasus lain yang bisa menjadi contoh, tapi perhatikan, itu hanya sebagian kecil. Ada berjuta-juta bapak yang sangat baik, bertanggung jawab, teladan dan takut akan Tuhan. Abraham, Yusuf, Ayub adalah contohnya.
Topik menariknya adalah mereka ingin melakukan yang terbaik. Kesalahan terjadi bukan karena mereka ingin mencelakakan anak dan keluarga. Tetapi karena mereka manusia yang memang tidak tahu yang baik dan benar dengan sempurna. Upaya-upaya dan cara mereka mendidik, mungkin tidak populer jaman sekarang ini, bisa jadi mengandung banyak kesalahan dalam metode, tetapi mereka berusaha melakukan yang terbaik selama masa anak-anak dalam tanggung jawabnya.
Berapa banyak orang luar biasa dan sukses pada jaman ini, baik dalam perkara dunia atau rohani, tidak lepas dari peran keluarga. Peran dari didikan seorang bapak.

12:10 ..., tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya.
Bapa di Sorga juga senang mengambil peran Bapa di bumi untuk membuat kita mengerti, betapa Dia megasihi kita. Dalam firman Tuhan, Tuhan tidak segan memakai kata menghajar untuk menunjukkan betapa Dia ingin kita mendapat bagian dalam kekudusanNya. Tidak mungkin ada persekutuan lebih erat dengan Bapa di sorga kalau kita tidak sesuai dengan suasana keluarga Sorga yang Kudus. Seorang bapak saja tidak akan mengijinkan anaknya semeja makan dengan dia sebelum tangannya yang kotor dibersihkan. Dan sedihnya seorang anak belum tahu pengetahuan kebersihan ini. Anak-anak menganggap tangan untuk memegang makanan boleh kapan saja digunakan untuk memegang lumpur atau kotoran. Kondisi ini yang sang Bapak ingin rubah. Tentu ada didikan dan teguran dalam hal ini, dan kadang sang anak tidak suka.

Tidak mungkin seorang bapak mengijinkan anaknya ikut jalan-jalan atau naik ke tempat tidur kalau dia masih memakai baju yang basah karena main air, atau baju yang kotor karena noda-noda kotoran. Sayangnya anak tidak tahu bedanya mana baju bersih dan pantas, yang sehat untuk tubuh, dan mana baju yang kotor penuh kuman.

Ibrani 12:7 Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?
Dimanakah anak yang sudah tahu segala sesuatu yang harus dilakukan?
Dimanakah ada anak yang sudah dengan sendirinya memahami tugas dan kewajibannya dengan baik?
Kalau ada pasti ajaib. Masa kanak-kanak Tuhan Yesus pun bersama didikan Ayah dan ibunya. Sehingga Dia dikenal punya profesi tukang kayu, belajar dari bapaknya. Lalu dimanakah ada anak-anak yang tidak rewel dan menangis kalau kesenangannya dilarang? Atau ada anak begitu senang, tidak kecewa bila mendapat disiplin dilarang keluar rumah? Mana yang disukai anak, hadiah atau  mendapat ganjaran? Pasti seorang anak tidak menyadari betapa ganjaran ayahnya itu istimewa, bahkan lebih dari hadiah. Sangat bermanfaat untuk hidupnya. 
Jadi kalau ada seorang anak Tuhan yang sering kecewa dengan apa yang dibuat Bapa disorga, merasa sedih, maka dia harus berubah cara berpikirnya, menyadari bahwa Bapa di sorga baik. Bukan Bapa yang harus berubah tetapi dia yang harus bertumbuh dewasa.

Ibrani 12: 6 karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak."
Jadi firman di atas ini meneguhkan, bahwa tidak ada anak Tuhan yang istimewa dalam hal didikan dari Tuhan. Semua akan mengalami yang disebut hajaran dan ganjaran. Kalau tidak mengalami hal ini jangan-jangan Tuhan tidak mengasihinya...jangan-jangan dia sebenarnya bukan anak Tuhan
Kasih itu murah hati, kasih itu panjang sabar, kasih lemah lembut... tetapi sekarang tambahkan, kasih Bapa itu juga mengandung hajaran. Kalau Bapa mengakui kita anak-Nya pasti ada saat kata ’menyesah’ atau mencambuk itu ada bagi kita anak-anak-Nya.

Maka dua respon terbaik adalah dengar-dengaran dengan Tuhan. Buka hati, apa yang Tuhan mau kita perbaiki dan pikirkan hasilnya, mengucap syukur kalau sekarang belum mengerti, tapi waktu rancanga Tuhan digenapkan kita sangat bergembira karena didikan Tuhan.
Ada orang tua yang sampai keras bahkan mendisiplin anaknya agar belajar matematika. Lebih banyak kesalahan, malas, menangis, menghindar dibuat oleh sang anak dari pada belajar sungguh-sungguh. Ia lebih suka membaca cerita, atau mewarnai. Tetapi orang tua terus dengan berbagai cara agar hari demi hari sang anak belajar. Memang, sekian banyak anak di dunia ini belum mengerti, ’untuk apa belajar matematika yang melelahkan!’ Tetapi suatu saat, kehidupan dan pekerjaan mereka ke depan banyak dipengaruhi oleh ilmu ini.  

Ibrani 12:12 Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah
Anggap Anda seorang anak yang sedang bertumbuh. Jika kaki Anda belum terlalu kuat untuk membuat Anda berjalan jauh, apa yang harus Anda lakukan? Tidak memakai untuk berjalan berlebihan.
Jika kaki anda sering luka karena terantuk batu, lecet karena kerikil, apa yang harus anda lakukan? Membungkusnya dan menjaganya baik-baik dari batu dan kerikil.
Tentu saja tidak demikian!
Anda harus melatihnya untuk berjalan lagi dan lagi. Untuk berlari, untuk memanjat, untuk menendang bola, untuk mengayuh sepeda, untuk berjalan di rumput, di kerikil, di tanah, di batu, di pantai... itu membuatnya bertumbuh kuat.
Kuatkanlah dengan makin percaya firman Allah, berharaplah dari kuasa Roh Kudus. Makin berdoalah, karena itu tangan rohanimu. Bukan jadi lembek, tapi harus makin berotot. Latih lagi. Doa belum dijawab, doa serasa tidak didengar, teruskan lagi, berdoa lagi.
Kalau jatuh bangkit lagi. Hati kecewa, merasa disakiti, merasa dilukai, dikhianati, bangkit lagi. Ampuni, rendah hati, cari wajah Tuhan.
Barangkali memang kita sombong, kita ceroboh dan tajam dalam kata-kata sehingga ditegur Tuhan melalui orang lain, maka koreksi kesombongan, minta ampun dan tinggalkan.
Awasi lidah kita, belajar menjaga rahasia yang dipercayakan, latih pikiran untuk memikir kearah positif, yang manis dan sedap didengar. Itu bisa dilatih. Cara paling gampang adalah dengan memikirkan reaksi dan jawaban kita lalu latihkan, ucapkan, perkatakan.
Ada banyak lagi kalau kita bicara kekudusan dalam berpacaran, kekudusan dalam menggunakan internet, kekudusan rumah tangga,
Dalam menggunakan uang, dalam mengelola berkat Tuhan,
Juga bagaimana kita merenungkan firman Tuhan setiap hari,
Dan masing-masing dalam diri Anda Roh Kudus pasti mengingatkan!

Ibrani 12:11 Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.
Kalau hari ini merasa berduka karena didikan, terkekang kebebasan karena harus berperilaku kudus, tidak gaul atau populer, itu memang tidak enak.
Orang lain menonton, kita berdoa dan membaca firman Tuhan,
Orang lain jalan-jalan kita bersekutu,
Orang lain bisa ganti-ganti pasangan, kita harus hidup kudus,
Orang lain belanja kita bayarkan uang persepuluhan dan persembahan,
dan banyak hal lagi yang saat ini terasa sebagai dukacita!

Kalau sekarang banyak orang menawarkan cara mudah untuk sukses, berhasil dengan cara mudah! Orang Kristen agaknya bisa tertular cara berpikir: Diberkati luar biasa, dengan cara hidup biasa-biasa.
Bahkan ada yang maunya hidup duniawi berkatnya sorgawi,
Sayangnya saya belum tahu rumus dari sorga atau alkitab yang demikian. Kecuali cara tipuan dari iblis.

Tetapi ingat, pohon yang dirawat dengan baik pasti datang juga masa berbuah! Andalah yang menikmati buah-buah hidup benar itu. Ketika orang lain jatuh, hidupnya rusak, tidak berpengharapan, jauh dari keselamatan, Anda menikmati buah dan berkat dari didikan kebenaran Tuhan. Bukan hanya berkat sekarang yang melimpah, tetapi yang paling dicari orang: Hidup kekal di Sorga, itu menjadi bagian kita!
Nah, Kuatkanlah lutut dan tangan rohanimu, karena Bapamu baik, sedang melatihmu untuk berkat besar-Nya!